Biaya – Biaya Yang Berkaitan Dengan Handling Barang Ekspor Impor Pada Saat di Pelabuhan

Posted on

Macam – Macam Biaya di Pelabuhan Ekspor Impor

Pada saat barang ekspor impor kita berada di pelabuhan, ada satu kewajiban yang harus kita lakukan yaitu “port clearance”. Yang dimaksud port clearance disini adalah aktivitas atau kewajiban – kewajiban yang harus kita penuhi kepada operator terminal di pelabuhan tempat barang kita singgah atau disimpan (storage) untuk sementara waktu. Biasanya aktivitas tersebut berkaitan dengan handling dan moving fisik barang ekspor impor dan tentunya dikenakan biaya.

Ada beberapa item biaya yang harus kita bayarkan kepada operator port pada saat barang kita di simpan atau di handling di pelabuhan, jenis – jenis biaya tersebut antara lain :

  • Terminal Handling Charge atau sering disingkat dengan THC
  • Lift On – Lift Off Container
  • Biaya storage container (untuk shipment FCL) atau biaya storage barang di gudang tertutup (untuk shipment LCL)
  • Biaya pemeriksaan barang jika barang kita terkena jalur merah oleh Bea Cukai
  • Biaya overbrengen (OB) atau biaya pemindahan container dari terminal container yang satu ke terminal container lainnya.
  • Biaya penimbangan container
  • Biaya sertifikasi container
  • Biaya administrasi lainnya yang dikenakan oleh berbagai pihak di pelabuhan, baik yang resmi maupun tidak resmi (pungli).

Khusus di Indonesia biaya – biaya pelabuhannya termasuk yang relatif tinggi dibandingkan negara – negara asia lainnya seperti Singapura, Taiwan, dan Korea, yang upah buruh dan sewa lahannya lebih tinggi, biaya pelabuhan di Indonesia masih lebih tinggi.

Biaya - Biaya Pelabuhan Ekspor Impor di Indonesia

Singapura mampu menjadi salah satu pelabuhan utama dunia karena memiliki pelabuhan yang sangat efisien dan mampu menekan biaya – biaya pelabuhan seperti THC, LOLO (Lift On Lift Off), dan lain sebagainya.

Tingginya biaya – biaya tersebut di Indonesia antara lain disebabkan oleh terbatasnya fasilitas pelabuhan dan tidak efisiennya operator pelabuhan, meskipun telah di privatisasi (beberapa terminal di Tanjung Priok dimiliki oleh satu perusahaan asing saja). Efisiensi pelabuhan di Indonesia tergolong paling buruk dibandingkan negara-negara Asia lainnya. Pelabuhan peti kemas JICT Tanjung Priok dikenal paling mahal dan tidak efisien dibandingkan negara-negara tetangga.

Biaya Pelabuhan Tidak Langsung

Selain biaya langsung, di pelabuhan juga terdapat biaya tidak langsung. Yang termasuk biaya tidak langsung antara lain waktu yang terbuang akibat penundaan pelayanan, hal tersebut bisa terjadi karena beberapa hal :

  • Rendahnya produktivitas pekerja di pelabuhan (Rata-rata hanya 18 jam / hari)
  • Masih adanya praktek pungutan liar oleh instansi di pelabuhan
  • Buruknya pelayanan dari instansi pemerintah di pelabuhan
  • Banyaknya instansi pemerintah yang terlibat di pelabuhan namun belum terkoordinasi dengan baik

Upaya Untuk Mereduksi Biaya – Biaya di Pelabuhan

Beberapa tahun lalu pemerintah telah membentuk tim untuk membenahi kinerja pelabuhan. Tim ini diketuai oleh menko perekonomian dengan koordinator harian menteri perhubungan dengan beberapa asosiasi dan departemen. Kita harapkan upaya pemerintah untuk mereduksi biaya pelabuhan bisa segera membuahkan hasil.

Banner Pelatihan Ekspor Impor
Banner E-Learning